@==(o_o)==@

Frengky: meskipun didasari keisengan, tapi semua dilakukan secara sengaja, so.. apa yang terdapat di dalamnya bukan merupakan hasil buah pikir yang ngasal ! ---------- Oleh karena itu selamat datang dan semoga bermanfaat. ---------- Salam Sejahtera. ---------- SEMANGAT !

HOME

Kamis, 22 April 2010

Tidur, Sial Bagiku

Dalam perjalanan mengantarkan pacarku menuju terminal Blok M, otakku merekam momen. Ya, sebuah kisah di Kopaja 63, Depok-Blok M, yang membuat diriku menjadi aktor. Aktor yang kesal karena menjadi korban atas kantuk yang dialami penumpang lainnya. Tanpa panjang lebar, beginilah ceritanya:

Kala itu, mentari akan meninggalkan langit Lenteng Agung. Kisahku berawal dari halaman rumah makan Padang di dekat kampus. Di sana aku dan kekasihku menunggu bus kota yang akan mengantarkan kami ke Blok M. Cukup lama. Lebih dari setengah jam kami berdiri menanti dan melototkan mata ke arah lalu lalang kendaraan.

Sial, bus yang dinanti tak kunjung datang. Namun, kami tak bisa menyalahkan bus atau pengoperasinya. Mungkin macet tak terelakkan atau apapun dapat terjadi. Kami tetap sabar dan tak berpikir mencari jalan pintas untuk naik angkot ke terminal Pasar Minggu, kemudian melanjutkan dengan naik bus 75 yang juga menuju ke Blok M.

Kesabaran akhirnya tertuntaskan. Kopaja yang akan kami tumpangi terlihat dari kejauhan dan akhirnya menepi di hadapan kami. Lantas kami naik. Hmmm.. untungnya masih ada bangku kosong bagi kami untuk meletakkan pantat. Namun, kami tak bisa duduk berdampingan. Bangku kosong sebelahnya telah terisi orang. Tapi kami masih bisa berdekatan karena kami hanya dibatasi jalan – bersebrangan –.

Diawal perjalanan, kami masih bisa berbagi kata dan bercanda. Namun, sial bagi kekasihku. Mulai dari keluar tol ia tampak tak nyaman. Badannya selalu bergerak bak cacing kepanasan, menghindar dan bolak-balik melongo ke arah penumpang yang berjenis kelamin lelaki yang duduk di sampingnya. Berdasarkan pengamatan, pikirku mungkin karena penumpang disampingnya sedang mengambil handphone dan membutuhkan sedikit ruang untuk mengeluarkannya dari kantung celananya.

Namun, apa yang terjadi tak sejalan dengan pikirku. Posisi tubuh kekasihku tak kunjung berubah seperti saat pertama ia duduk di bus itu. Lantas aku menanyakan kepadanya kenapa. Dengan nada yang terdengar pelan akibat kondisi yang berisik – gemuruh mesin kopaja dan kendaran di sekitarnya – ia menjawab, “parah, tidur yang”. Ohhhh... ternyata kepala penumpang yang tidur di samping kekasihku mengarah ke badannya dan itu cukup mengganggunya.

Karena kasihan, tak berselang lama, aku menawarkan untuk saling bertukar tempat. Ya, akhirnya kami bertukar. Sekejap, rasa yang tadi di rasakan kekasihku ikut bertukar kepadaku. Dalam hati, pantas saja tak nyaman.

Apa boleh buat, kondisi seperti ini harus ku rasakan karena kondisi seperti ini bagian kehidupan sosial. Kehidupan dimana semua orang menjadi aktor dan melakoni perannya tanpa naskah yang terencanakan. Ini sebuah kenyataan. Sebuah fakta yang ada didalam masyarakat. Bukan hanya aku dan kekasihku yang merasakan hal seperti ini, tapi orang lain pasti pernah merasakannya juga diwaktu, tempat, kondisi yang berbeda.

Meski kepala sang petidur telah jatuh di pundakku, namun aku cukup sabar menghadapi lelapnya sang petidur. Dalam gelisah badan yang menahan tekanan kepala, sesekali bahkan berulang kali si gendut – panggilan ku untuk kekasihku – berulah. Ia terus mengisengi ku. Sembari tertawa, berkali-kali ia mendorong badanku. Maksudnya agar si empunya kepala terganggu, lantas bangun, kemudian membenahi kepalanya yang sejak tadi miring ke badanku. Dasar geeeennduutt...

Part 2

Tak lama kemudian, tepat di kursi di belakang kekasihku, salah seorang penumpang meninggalkan singgasananya, lantas turun dari kopaja. Sambil menoleh kebelakang, dalam hatiku sebuah harapan lantas terbesit. Di sana akan membuatku merasa lebih nyaman karena aku akan meninggalkan sang petidur yang sejak tadi membuatku menjadi bantalnya. Tak pikir panjang, aku segera memindahkan tubuhku untuk beralih ke kursi yang telah ditinggalkan. Tapi, mmmmmmm, hal serupa kembali kutemukan seperti di kursi sebelumnya. Ya lagi-lagi seorang lelaki. Lelaki berkepala cepak yang begitu nyenyak tertidur. Pikirku, tak apa-apalah, tak akan kembali menggangu kenyamanan sebab penumpang yang satu ini menyandarkan kepalanya kesisi yang berlawan denganku – ke jendela bus kopaja –.

Detik, menit berlalu. Dalam rentan waktu yang tak begitu singkat aku merasa nyaman. Posisi dudukku sesuai dengan apa yang ku inginkan.

Namun, tak berselang lama, nasib sial kembali tertuju pada ku. Entah karena gaduh atau jalan yang tak begitu mulus sehingga menimbulkan goncangan, membuat lelaki di sampingku tersentak. Tiba-tiba ia memelukku. Lingkaran tangannya ditubuhku sontak membuatku kaget. Dengan penuh amarah, aku mengalamatkan pandangan tajam ke arahnya. “Apaan nih?,” kecamku. Dengan mata yang masih setengah terbuka, ia menarik tangan lantas berkata, “sori, sori”. Ia tampaknya cukup malu sehingga membuang pandangannya keluar.

Aneh. Itulah yang ada dalam benakku. Entah karena ketidaksadaran yang luar biasa atau nafsu yang belum terselesaikan dengan kekasihnya sehingga membuatku menjadi korban untuk kedua kalinya. Namun, untuk kali ini akan ku masukan dalam catatan dipikiranku dan tak akan terlupakan. Nasib, nasib, nasib.

HAHAHAHAHAHAHA...................

2 komentar: