Sebulan sudah pagelaran piala dunia 2010 Afrika Selatan menyihir, merasuk, dan mengakar dalam diri masyarakat dunia. Maklum saja, even yang baru pertama dihelat di benua hitam tersebut menarik karena mampu menghadirkan percampuran sepak bola dengan kebudayaan dan keunikan Afrika.
Selama itu para gladiator si kulit bundar menunjukkan aksinya, bertempur, dan bergulat bak domba jantan yang beradu. Mereka saling sikut, tak jarang emosi ikut serta dan mengajak peran serta dari sang pengadil lapangan.
Tak hanya itu geliat pesta sepak bola juga disemarakan pemain ke-12 yang datang dari beragam negara. Mereka berbondong-bondong meninggalkan negaranya untuk mendatangi venue menyaksikan laga sang jagoan. Sebagian besar merupakan pendukung dari negara yang ikut menjadi kontestan. Penampilan mereka beragam. Atribut-atribut menarik dan terkadang cukup aneh.
Namun, semua telah usai. Semua telah kembali seperti biasa. Pemirsa televisi pun tak lagi dapat menyaksikan piala dunia berlangsung sampai periode empat tahun ke depan.
Sang juara pun telah muncul ke permukaan. Mereka berhasil menerobos hadangan hutan belantara dan membawa pulang piala supremasi jagad sepak bola. Mereka adalah segerombolan banteng Spanyol. Pada laga puncak sekaligus laga penutup, melalui gol semata wayang pemain tengah Spanyol yang tampil militan, Andres Iniesta, La Furia Roja menjungkalkan Belanda 0-1. Dengan kemenangan ini, akhirnya Spanyol berhasil mengangkat trofi sekaligus memberi gelar perdana bagi tim matador dikancah sepak bola dunia.
Kontroversi
Meski pesta telah usai, namun pagelaran menyisahkan beberapa catatan penting. Syahdan, piala dunia menorehkan banyak kontroversi yang tak terlupakan.
Salah satunya adalah Jabulani. Bola yang diproduksi Adidas ini dianggap terlalu ringan dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Nama tenar seperti penyerang Brazil Luis Fabiano, kiper Inggris David James, serta pelatih Belanda Van Marwijk senada membenarkan. Bahkan kiper tim Spanyol menilai bahwa Jabulani laiknya bola pantai karena sulit untuk dipegang.
Kekurangan Jabulani pun dirasakan berdampak pada performa pemain di lapangan. Sebagai contoh blunder yang dilakukan kiper Inggris Robert Green saat berhadapan Amerika Serikat. Sempat menahan bola, namun Green tak mampu menghentikan laju bola yang terus mengalir ke dalam jaring Inggris.
Menyoal kontroversi seputar Jabulani, FIFA angkat bicara. Federasi sepak bola tertinggi dunia itu mengakui dan membenarkan adanya kekurangan pada bola. Selanjutnya FIFA memutuskan akan membicarakannya masalah tersebut.
Selanjutnya sorotan tertuju pada Vuvuzela. Terompet khas asal Afrika yang terbuat dari plastik berbentuk kerucut yang memiliki panjang sekitar 90 cm tersebut dikeluhkan berbagai kalangan sepak bola.
Pasalnya, kebisingannya layaknya kerumunan tawon dianggap sangat memecah konsentrasi dan komunikasi antar pemain dilapangan. Entah mencari pembenaran atau tidak, Fellipe Melo menilai kebisingan vuvuzela membuat konsentrasinya pecah, hal ini lantas membuat dirinya melakukan gol bunuh diri.
Bintang Portugal Cristiano Ronaldo bahkan ikut membenarkan ihwal kebisingan vuvuzela. “Sulit bagi siapa pun untuk berkonsentrasi. Meski banyak pemain tidak menyukai, tetapi mau tak mau mereka harus terbiasa,” ungkap pemain Real Madrid ini.
Hal senada juga diutarakan media yang meliput piala dunia. Suara yang menggelegar disinyalir membuat pemirsa televisi tidak dapat mendengar suara komentator dengan jelas.
Meski banyak permintaan pelarangan penggunaan vuvuzela di stadion berdatangan namun FIFA bersikeras untuk tetap mempertahankan vuvuzela di Afrika Selatan. Menurut FIFA pelarangan tidak mungkin dilakukan karena hal ini berkaitan dengan kebudayaan dan kegembiraan masyarakat Afrika.
Selain kedua benda di atas, kontroversi juga melibatkan pengadil di lapangan. Kontroversi atas keputusan wasit terjadi pada laga yang mempertemukan Jerman-Inggris dan Argentina-Mexico.
Kontroversi pertama terjadi saat pengadil asal Uruguay Jorge Larrionda menganulir gol tendangan Frank Lampard ke gawang Jerman. Padahal berdasarkan tayangan ulang sepakan Lampard yang membentur mistar gawang lantas memantul sudah 30 cm melewati garis gawang tim Panser.
Keputusan salah wasit juga terjadi pada laga yang melibatkan dua kontestan dari benua Amerika. Laga yang dipimpin wasit kebangsaan Italia Roberto Rosetti juga menuai kontroversi. Betapa tidak, Rosetti mengesahkan gol yang diciptakan Carlos Tevez meski pemain Argentina itu jelas tertangkap off-side.
Dua blunder yang dilakukan dua wasit kontan membuat FIFA tertampar. Alhasil, otoritas tertinggi sepak bola tersebut memecat keduannya. Dan Untuk menindak-lanjuti permasalahan tersebut FIFA akhirnya menyetujui untuk membawa permasalahan itu pada pertemuan di Jenewa, Oktober mendatang.
Berbekal dua kesalahan di atas, meski sempat dihentikan kini FIFA kembali akan mengagendakan penggunaan teknologi untuk menunjang kualitas pertandingan. “Jelas terlihat melalui pengalaman di piala dunia kali ini. Sungguh tak masuk akal jika tidak kembali membuka file mengenai teknologi garis gawang,” kata Sepp Blatter.
Biarlah FIFA bekerja...
Semoga hasil baik tercipta...
Menjadikan sepak bola indah...
Dan, menarik untuk kita...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar